Rahasia Shalat Khusu’

36840_110019962378520_100001115509680_67917_4546186_s

Sesungguhnya shalat merupakan cermin keimanan bagi setiap mukmin. Ia merupakan sentuhan kasih sayang, sentuhan yang lembut yang mampu membuka hati dan menembus Dzat Yang Maha Tinggi. Shalat adalah proses transendensi (berpindahnya jiwa) menuju Tuhan dengan menyebut nama Allah dan bermunajat kepadaNya. Ia merupakan bentuk komunikasi yang sempurna antara hamba dan Tuhannya.

Dalam shalat, seseorang akan berusaha untuk menapaki jalan spiritual untuk mempertemukan diri atau aku yang fana dengan kekuatan ilahiah (divine power) atau Aku yang kekal (baqa).

Shalat merupakan metode pengulangan dimana potensi spiritual yang berisikan elemen-elemen karakter atau sifat-sifat mulia dan agung diasah dan diulang-ulang sehingga terjadi proses yang mengarah kepada internalisasi karakter. Konsep ini terbukti efektif menciptakan manusia ras yang unggul. Secara esesnsial dan sederhana. Pengulangan sifat-sifat mulia itu dilakukan oleh orang-orang jepang, berupa creedo atau sumpah yang diucapkan setiap hari, ini juga dilakukan oleh kalangan militer dan prajurit.

Shalat adalah metode yang jauh lebih sempurna, karena ia tidak hanya bersifat duniawi namun bermuatan nilai-nilai spiritual. Di dalamnya terdapat sebuah totalitas yang terangkum secara dinamis kombinasi gerak (fisik), emosi (rasa) dan hati (spiritual). Dapat dilakukan secara pribadi ataupun bersama-sama (berjamaah). Ini berbeda dengan creedo atau sumpah orang-orang jepang yang tidak bisa dilakukan secara pribadi. Inilah beberapa keunggulan dalam shalat yang tidak bisa disebutkan satu persatu secara detail. Tak ada satu katapun atau bahasa manapun yang dapat menyampaikan betapa luasnya makna shalat. Ia tidak hanya merupakan pengulangan tadi, ia juga merupakan shalawat, do’a, munajat serta perpaduan mengagumkan yang terjadi antara kepasrahan hati yang penuh dedikasi dan gerak tubuh. Dalam shalat, segenap eksistensi kita terlihat dalam suatu peristiwa yang menggetarkan qalbu.

Dalam hubungannya antara hamba dan Sang Pencipta, maka fungsi shalat bagi manusia adalah :

1.   Sebagai Mekanisme untuk Mengingat Sifat-Sifat Mulia Sang Pencipta

Ketika shalat, seseorang diminta untuk melafadlkan sifat-sifat agung yang dimilikiNya dengan sepenuh jiwa, serta memuji asmaNya secara berulang-ulang. Pemilik sifat-sifat terindah, Azza wa Jalla. Penggenggam seluruh Asmaul Husna yang telah terangkai dengan penuh kesempurnaan dalam ibadah shalat.

Artinya :   ”Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS.Thahaa :14)
Allah memerintahkan kepada manusia agar mengingatNya sebanyak-banyakNya dengan firmanNya :   Artinya     :  ”Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab : 41)
Dengan mengingat Allah :
a.    Allah akan mengingatnya; yakni melimpahlan rahmat dan ampunanNYa   Artinya     :  ”Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu[98], dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah : 152)
    b. Hati akan menjadi tentram Artinya     :  ”(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’du : 28
2.  Bersama Alam Semesta Bersujud dan Bersimpuh di Haribaan Allah SWT
Ketika shalat, seseorang memasuki gelombang 40 Hz, menyatu dengan alamsemesta, bersama bintang-bintang, bersama matahari, bersama rembulan. Bersama alam bersujud dan bersimpuh di haribaan Allah SWT. Manusia tidak sendirian. Ia hanya turut kehendak alam yang sedang bertasbih memuji kekuasaan Yang Maha Perkasa. Matahari memancarkan cahayanya bertasbih kepada An_Nur, Sang Maha Cahaya. Ia tunduk kepada Ar-Rahman yang mengasihi manusia, ia sujud dan memancarkan cahaya atas perintah An-Nuur agar memberi sinarnya kepada para hamba yang sangat disayangiNya.
Bintang-bintang bertaburan di langit menghiasi malam yang begitu indah, bak gemerlap hamparan mutiara. Menciptakan keindahan tak terperi, keindahan yang penuh keagungan dan tak terjangkau ketinggiannya. Bintang-bintang bersujud dan bersimpuh di Keagungan Yang Maha Indah, milik Al-Badii’, bercermin dan mensifati nilai-nilai keindahan Sang Maha Indah, Al-Badii’. Bintang-bintang itu bagai kompas yang memberi petunjuk bagi nelayan di tengah samodra agar tak kehilangan arah pulang ke rumah. Bintang bersujud kepada Al-Haadii, ia meneladani sifat Sang Maha Pemberi Petunjuk.
 Rembulan memberi cahaya yang lembut di malam hari. Cahaya Indah yang tak menyilaukan mata. Cahaya yang memberikan rasa damai di hati setiap manusia yang memandangnya. Rembulan bertasbih kepada Al-Lathiif, ia berguru kepada kelembutan Sang Maha Pemilik Kelembutan.
Bumi dengan kokoh dan tangguh menopang serta menahan segala apa yang menjejak di permukaannya. Ia menopang segala tumbuh-tumbuhan, ia menahan ketinggian gunung-ginung dan gedung-gedung tinggi pencakar langit. Ia bertaqarrub pada Sifat Maha Penahan milik Al-Qaabidl. Ia bertasbih dengan caranya sendiri, seperti teman-temannya yang lain. Laa ilaaha illallah.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s